Kota Lawang adalah sebuah kota
kecamatan kecil di dekat Malang tepatnya 19 km di sebelah utara Kota
Malang, atau 71 km di sebelah selatan kota Surabaya Provinsi Jawa Timur.
Kota Lawang terletak di 450 meter dpl (dari permukaan air laut) dengan
koordinat 7°49'48"S 112°42'0"E, atau secara geografis terletak di
pegunungan dan dikelilingi Gunung Arjuna pada sebelah barat dan Gunung
Semeru untuk sebelah timurnya, serta diapit oleh Kota Singosari pada
sebelah selatan dan Kabupaten Pasuruan pada sebelah utara.
Kabupaten Malang merupakan wilayah yang strategis sejak pada masa pemerintahan
kerajaan-kerajaan. Hingga saat ini Kabupaten Malang merupakan wilayah
yang cukup strategis, hal ini didukung dengan mudahnya akses yang
menghubungkan Kabupaten Malang dengan daerah sekitar, yaitu dengan
adanya jalan arteri primer yang ditunjang dengan sarana prasarana
transportasi yang memadai. Lawang merupakan daerah berkembang di
Kabupaten Malang, sektor industri dan perdagangan sangat diandalkan di
wilayah ini. Sama halnya daerah-daerah dan kota-kota lain di Indonesia,
sejarah perkembangan dari suatu wilayah bermula dari suatu daerah yang
dapat dijadikan pusat perkembangan atau yang biasa disebut dengan kota
lama.
Kawasan pusat Kota Lawang memiliki tingkat kegiatan yang
meningkat selama beberapa tahun dan dapat dinilai intensif dan teratur.
Perkembangan yang mencolok terlihat pada kawasan perdagangan, yang
berada di sekitar Pasar Lawang. Selain itu juga pada kawasan jasa dan
perkantoran yang beraglomerasi di sepanjang Jalan Thamrin (ruas jalan
arteri primer Surabaya-Malang). Sejarah dan perkembangan Lawang tentunya
saling berkaitan dengan wilayah sekitarnya, seperti Singosari,
Purwosari dan Kota Malang. Semula Lawang merupakan kota kecil yang
diperuntukkan sebagai daerah peristirahatan dan perkebunan yang kaya di
Lereng Gunung Arjuno.
Kota Lawang dikenal sebagai kota
peristirahatan sejak zaman penjajahan Belanda. Karena itu tidak
mengherankan bila sampai saat ini masih banyak ditemui bangunan kuno
dengan konstruksi khas arsitektur Belanda. Berdinding tebal, beratap
tinggi dengan pintu dan jendelanya yang super lebar dan tinggi. Kurang
lebih terdapat 80 bangunan yang letaknya menyebar dari pusat Kota
Lawang. Termasuk stasiun kereta api yang merupakan salah satu
persinggahan kereta api jalur Selatan dari Surabaya ke Malang dengan
umur banguan 123 tahun..
Dari arah Utara:
1. Daerah Tawang sari,
banyak bagunan kuno yg masih di pertahankan oleh penduduk sekitar.
Kurang lebih 10 bangunan termasuk juga bangunan kuno yang terdapat di
dalam asrama Polisi Militer AD Tawangsari(sebelah kiri jalan arah dari
Surabaya-Malang).
2. Di Jalan Dr. Soetomo, di jalan ini terdapat
bangunan kuno yang menjadi icon dari kota Lawang sejak penjajahan
Belanda. HOTEL NIAGARA.
(pembahasan bangunan ini akan saya jelaskan setelah ini)
3. Sebelah utara Pasar Lawang. Sayangnya di sini banyak bangunan kuno yang
sudah dirobohkan karena tidak terawat. Untuk di sebelah timur Pasar
Lawang terdapat kurang lebih 5 bangunan yang masih di pertahankan.
Terdapat 2 bangunan kuno yang tidak mengalami perubahan fisik di Jalan Thamrin (selatan dari Pasar Lawang)
4. Di dalam pusat kota, seperti di Kelurahan Kauman.
Beberapa bangunan kuno yang sejak bangunan didirikan tidak mengalami perubahan
fungsi. Bangunan-bangunan kuno yang dipergunakan untuk sarana umum dan
beberapa rumah tinggal Kondisi kawasan yang semakin berkembang
dengan pesat, maka berdampak pada bangunan-bangunan kuno, yaitu beberapa
bangunan yang mengalami perubahan fungsi. Namun, adanya perubahan
fungsi bangunan di kawasan pusat Kota Lawang, tidak menyebabkan
perubahan fisik bangunan secara total. Di antaranya Gereja Advent,
dahulu merupakan rumah tinggal.
5. Di Jalan Argo Tunggal, di daerah
ini terdapat Sekolah Dasar Khatolik St. Fransiskus yang sudah bediri
sejak penjajahan Belanda. Sekolah ini dulunya khusus untuk anak-anak
kolonial Belanda dan anak-anak para Pejabat Pemerintah setempat.
Bangunan sekolah ini tetap dipertahankan sejak didirikan (saya bisa
menulis seperti ini karena saya sendiri adalah alumnus dari sekolah
tersebut). Untuk di sekitar sekolahan tersebut, cukup banyak bangunan
kuno yang masih terawat.
6. Di kawasan permukiman yang terletak di
pusat Kota Lawang, tepatnya di belakang Stasiun Kereta Api Lawang,
yaitu Kawasan Permukiman Ngamarto. Perkembangan Kawasan Ngamarto tidak
lepas dari pengaruh berdirinya Stasiun Kereta Api. Kondisi beberapa
bangunan rumah tinggal Ngamarto kurang terawat dan terpelihara dengan
baik.
7. Di Kelurahan Sumber Waras dan Sumber Wuni, masih terlihat
7-10 bangunan. Untuk Kelurahan Sumber Wuni Utara terdapat sederet
bangunan kuno pada sisi jalan, sayangnya bangunan ini tidak terawat
dengan baik.
Masa Kerajaan Singhasari (….-1767)
Pada masa Kerajaan Singhasari, Kota Lawang masih berupa ruang terbuka hijau,
dan belum ditemukan adanya peradaban manusia, sehingga masih belum
ditemukan adanya penanda kawasan/landmark.
Masa Penjajahan Belanda (1767-1942)
Kedatangan Belanda membawa dampak positif terhadap perkembangan bangunan. Belanda
menetapkan Lawang sebagai kawasan peristirahatan, sejak itulah banyak
bermunculan bangunan kolonial yang berfungsi sebagai villa. Pada saat
itu di Lawang terdapat 3 buah bangunan yang dapat dijadikan tengeran
(landmark), yaitu Hotel Niagara, sebuah bank swasta dan kantor BAPPERKI milik Cina.
Pada masa penjajahan Belanda terdapat dua pusat kegiatan, yaitu pasar
(Pasar Besar Lawang), dahulu hanya berupa pasar tradisional, dan Stasiun
Lawang. Pasar tersebut terletak di jalan utama, sehingga mudah untuk
dijangkau oleh masyarakat sekitarnya.
Masa Penjajahan Jepang (1942-1945) Pada masa penjajahan Jepang tidak membawa perubahan pada keberadaan 3 buah (Hotel Niagara, sebuah bank swasta dan Kantor BAPPERKI) landmark pada
saat itu. Pada saat Jepang berkuasa di Lawang pada tahun 1942-1945,
tidak terjadi perubahan dengan masa sebelumnya. Hanya saja pada masa
penjajahan Jepang, kondisi perekonomian kawasan studi tidak stabil,
sehingga berdampak pada pasar tradisonal yang dahulunya selalu menjadi
pusat kegiatan masyarakat. Pasar yang dahulunya ramai dikunjungi, pada
masa itu menjadi sepi, yang diakibatkan kekuasaan Jepang yang
semena-mena. Keberadaan Stasiun Kereta Api sebagai node kedua pada
kawasan tetap berfungsi dan tidak mengalami permasalahan.
Masa Pasca Kemerdekaan (1945-2010)
Setelah masa kemerdekaan, kawasan mulai berkembang pesat, yaitu sejak tahun
1980-an. Sejak itulah terjadi pembangunan besar-besaran pada kawasan
studi, yang berdampak pada pemugaran bangunan kuno. Hal ini berdampak
pada pengurangan jumlah landmark, yang semula terdapat 3 buah (Hotel
Niagara, sebuah bank swasta dan Kantor BAPPERKI), namun saat ini hanya
terdapat sebuah landmark (Hotel Niagara). Hotel Niagara merupakan
bangunan tertinggi di kawasan kota ini, dan memiliki corak bangunan yang
unik dan fenomenal, Hotel Niagara dapat juga disebut sebagai icon dari
Lawang.... Setelah Indonesia merdeka, Indonesia mulai banglit dari
keterpurukan, semua daerah berlomba-lomba membangun daerahnya kembali.
Sama halnya dengan kawasan Lawang, seiring dengan pesatnya perkembangan,
letak kawasan yang strategis dan mudahnya penjangkauan, sehingga
kawasan menjadi pusat kegiatan, pusat pemerintahan, dan pusat
perdagangan. Dengan kawasan yang semakin berkembang pesat, memicu adanya
node baru, yaitu Stadion Lawang. Semula Stadion Lawang hanya berfungsi
sebagai ruang terbuka hijau, namun saat ini tidak hanya berfungsi
sebagai ruang terbuka hijau saja, melainkan sebagai sarana olah raga.
Saat ini terdapat 3 (tiga) buah node, yaitu Pasar Besar Lawang, Stasiun
Lawang dan Stadion Lawang
Markas Besar Polisi Militer yang di bangun oleh Belanda
Rumah Kuno Belanda yang Menjadi Salah rumah yang masih ditempati di Lawang
Hotel Niagara Salah Satu Hotel Peniggalan Jaman Belanda yang Sampai saat ini Berjalan
Ruangan Hotel Niagara yang Konon sering adanya Penampakan pada malam-malam tertentu
Wisma Erni Yang Berada Dekat dengan Tol Lawang yang Konon pernah menjadi Tempat Uji nyali Dunia Lain
Juga sudah ada wisata Selfie Point 3D ilusi
BalasHapushttps://sp3di.blogspot.co.id/